Mar 03 2008

awan965

Rugikah Saya?

Filed under Artikel

”Mengapa bahagia terus?”
Karena saya selalu mengenang kebahagian bersamanya

’Mengapa banyak kawan dan banyak yang menolongmu, padahal diantara yang menolongmu itu ada yang membencimu?”
Karena saya selalu dekat dengan mereka, saya selalu mengajak meraka dengan kelebihannya dan tidak peduli dengan kekuarannya, dan saya selalu baik pada mereka, buat apa saya benci (mereka)

”Mengapa pekerjaan Anda selalu sukses?”
Karena banyak yang membantunya

”Mengapa mereka membantu Anda?”
Tanya saja langsung pada mereka, dan tidak mungkin mereka menyebutkan alasan yang sebenarnya

”Mengapa Anda selalu mangajak saya?”
Karena dirimu punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain

“Sebetulnya apa kelebihan saya?”
Cukup saya yang tahu kelebihan dirimu, karena dirimu belum memahami dirimu seutuhnya.

“Apakah saya dimanfaatkan oleh Anda?”
Ya saya manfaatkan, agar hidupmu kelak menjadi bahagia

“Rugikah saya?”
Kalau dirimu merasa rugi, pikirkanlah kerugian itu mulai sekarang dan hitunglah keuntunganmu, kalau dirimu ingin beruntung, lakukanlah apa yang kamu mampu karena kemampuanmu akan membawa keuntungan dan jangan berpikir untuk menghitung-hitung keuntunganmu. Kalau kau merasa rugi, maka tinggalkan saya, dan saya tidak akan mengajak dirimu untuk bekerja sama, dan saya rugi telah mengajak dirimu. Pikirkanlah olehmu….

6 responses so far

Mar 03 2008

awan965

Waktu di Akhir Zaman

Filed under Artikel

Sekarang di akhir zaman, manusia di sana-sini banting tulang siang malam usaha tak kenal letih. Berjuang mencari dunia halalkan segala cara tanpa pikir dosa. Mengumpulkan kekayaan mendambakan kemehan tak sempat bersihkan diri mabuk harta lupa diri, lupa akan bekal nanti seakan di dunya tak akan pernah mati. Anak manusia iman goyah jadi serajah anak manusia moral ambruk main seruduk, tanpa pandang bulu tanpa pikir dulu siapa kuat dia dapat lebih dulu. Aduh manusia, anak manusia wahai manusia, menendang siapa saja menyikut siapa saja, asal segala yang didambakan dapat diraihna, yang ada dalam pikirnya hanyalah dunia dan dunia, akhirat terlupa.

One response so far

Mar 03 2008

awan965

Jangan Menyangka Orang Lain!

Filed under Artikel

Jika melihat buah durian tentu jangan lihat kulitnya, jelas memang duri luarnya tetapi ternyata manis isinya, begitu pun menilai orang jangan lihat dari kulitnya, yang kita sangka kita madu malah isinya racun, yang kita sangka racun isinya malah madu. Jangan menyangka orang lain buruk siapa tahu kita lebih buruk dari dia. Jangan menyangka orang lain rusak siapa tahu kita lebih rusak dari dia. Jika anak manusia yang tampak hitam kita jangan pernah langsung mevonis hitam sebab di alam fana bisa berubah dalam satu detik manusia bisa berubah. Yang tadinya hitam bisa jadi putih yang tadinya putih bisa menjadi hitam, bimbinganlah yang hitam menjadi putih dan jagalah yang putih agar tetap putih.

One response so far

Mar 03 2008

awan965

Dengar Suara Hatimu

Filed under Artikel

Kamu marah?
Kamu bosan?
Kamu sudah tidak sudi lagi?
Kamu benci?
Wajahmu masih menyimpan
rasa rindu
rasa kangen
rasa kasih
rasa sayang
rasa cinta
Hatimu berkata
masih malu
masih benci tapi rindu

Sekarang….
Coba dengar kata hatimu…
Dengar dan dengar lagi
Kata hatimu mengakui semuanya
Coba dengar lagi suara hatimu
Suara hatimu mengatakan yang sejujurnya

One response so far

Mar 03 2008

awan965

Aku Merenung….

Filed under Artikel

Ketika duduk termangu di bawah pohon yang rindang hatiku berkata:

  • Butuh waktu tahunan bahkan berpuluh tahun membangun kreadibilitas. Namun keruntuhannya bisa terjadi hanyan dalam wakti sekian detik saja.
  • Allah meciptakan seseorang ke muka bumi dibekali dengan kelebihannya yang akan berguna beginya dalam ikhtiar menggapai kemuliaan diri.
  • Orang yang berbhagia tidak bekerja mengikuti hasrat fisiknya. Ia bahagia bekerja dengan selalu mengikuti bsiikan hati yang tak pernah sanggup berdusta
  • Apapun kekurangan diri bukan hambatan untuk berprestasi. Sebab kita punta potensi untuk mengubah kekurangan menjadi kelebihan.

One response so far

Mar 03 2008

awan965

Bertanya?

Filed under Artikel

Apakah aku ini sedang bertanya?
Apakah asmara punya api?
Apakah asmara punya bara?
Lalu bagaimanakah dengan “Api asmara yang sedang membara”?
Apakah api bisa membakar?
Lalu bagaimanakah dengan suasana hati yang sedang malas
Apakah rasa malas bisa di bakar dengan api asmara yang membara?
Lalu apa yang mudah terbakar dengan api?
Lalu bagaimanakah dengan kemarahan yang mudah terbakar oleh api nafsu emosi yang membara?
Ah… apakah aku sedang bertanya?
Apakah semua itu pertanyaan?
Lalu apakah aku sedang bertanya?
Ada yang bisa menjawab?

One response so far

Mar 03 2008

awan965

Apakah Cinta Itu…

Filed under Artikel

Apakah cinta itu
sayang
Apakah cinta itu
kasih
Apakah cinta itu
rindu
Apakah cinta itu
kangen
Apakah cinta itu
sebuah rasa yang
iklas
rido
suci
Apakah cinta itu
tidak harus
memiliki
bertemu
Apakah cinta itu
harus
saling pengertian
saling menghormati
saling menjaga kepercayaan
Apakah cinta itu akan luntur?
Apakah cinta itu akan pudar?
Apakah cinta itu akan hilang?
Apakah cinta itu dibayang-bayangi
kebencian
kemunafikan
kebosanan
Apakah cinta itu tidak ada jawabannya di atas?
Lalu cinta itu apa?

2 responses so far

Mar 03 2008

awan965

Pulsaku Habis…

Filed under Artikel

Dua orang remaja sedang adu mulut.“Hai, mengapa sms ku kemarin tidak di balas? Sudah melukanpanku ya!”, tanya si perempuan.
“Iya smsmu sudah kubaca, hanya pulsanya habis, jadi maaf deh tidak membalasnya”, jawab si lak-laki.
“Halah… bohong kamu, kalau sudah tidak sudi lagi dengan smsku tidak apa-apa, sudahlah hubungan kita sampai di sini saja!”, ketus si perempuan.
“Waduh.. gara-gara pulsaku habis dan tidak dibalas kok jadi gini…, ya udah kalau maumu begitu… terima kasih atas sms terakhirnya” si lelaki membela diri.
[Si perempuan langsung membalikkan mukannya, harapannya sih.. si lelaki itu terus berargumen dan mengejarnya, tapi si lelaki itu membalikkan mukanya juga dengan perasaan kecewa]

Saya merenung, mengapa argumen si lelaki tadi tidak dipercaya, dan mengapa si perempuan itu benci tapi rindu?

No responses yet

Mar 03 2008

awan965

Wanita Harus Dimengerti, Lelaki Dicurigai?

Filed under Artikel

Dua orang remaja sedang berdialog.

“Maafkan aku ya”, kata si lelaki.
“Kau tidak usah minta maaf”, kata si perempuan.
“Aku telah membuatmu marah”, si lelaki melanjutkan pembicaraanya.
“Ya aku pahami dirimu, kau tidak usah dengar lagi curhatku, atau keluhanku, aku sadar kau tidak menyukai keluhanku, curhat, ceritaku itu”, si perempuan sambil membalikkan mukannya.
“Ya aku pun sadar, aku hanya sekedar sahabat, aku hanya teman, aku bukan siapa-siapa kamu, aku orang lain, meskipun begitu aku merasa senang jika aku jadi tempat bercerita mengeluh dan curhat” si lelaki menjelaskan lagi.
“Harusnya kau mengerti aku, aku jadi curiga padamu, jangan-jangan…. jangan-jangan…” si perempuan tidak melanjutkan dialognya lagi.

Mereka terdiam.

Dari dari dialog tadi saya jadi bertanya-tanya.
Apa bedanya curhat, mengeluh, dan bercerita?
Apa bedanya teman dan sahabat?
Apakah betul wanita harus dimengerti?
Apakah betul laki-laki harus dicurigai?

2 responses so far

Feb 09 2008

awan965

Kapan Lagi, Kalau Bukan Sekarang

Filed under Artikel

Kita hidup di dalam dunia yang fana segala sesuatu tidak kekal adanya tidak harta tidak benda tidak pula tahta semua bersifat sementara. Kita hidup di dalam dunia yang fana segala sesuatu memang sementara maka dari itu siapkahlan bekal untuk di alam sana.

Kapan lagi berbuat kebaikan, kalau bukan sekarang.

Kapan lagi berbuat tunai kewajiban, kalau bukan sekarang

Kapan lagi bersujud kepada Tuhan, kalau bukan sekarang

Kalau usia sampai batas hilanglah kesempatan

One response so far

Feb 09 2008

awan965

Sobat…, Masih Ingatkah Kepada Orang Tua?

Filed under Artikel

Sobat…
Pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini?
Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya sendiri atau berdua. Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing. Betapa sepinya mereka.

Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita buang “pup” di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba -tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.
Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan
demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena
teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali
sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang
penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu
menyambut kita dengan senyum.

Sobat…
pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar? Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu Ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita?

Sobat..
Pernahkah k ita merasakan apa yang ayah dan ibu kita rasakan, mereka rela tidak memiliki apa -apa demi anaknya mereka rela tidak memiliki baju baru, biar anaknya bisa sama dengan anak-anak yang lain, mereka rela makan dengan apa adanya, biar anaknya bisa menikmati m akanan yang enak mereka rela memberikan uang sakunya yang kadang-kadang hanya pas-pasan saja, biar anaknya bisa jajan, bisa sekolah, bisa kuliah….dan bisa hidup seperti anak-anak yang lain…

Sobat…
Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan? Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan kristal kecil hadiah u lang tahun dari teman kita? Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa? Pernahkah kita menghitung dosa apa yang telah kita perbuat terhadap  mereka…,mulai dari kita bayi, anak-anak, remaja, dewasa, sampai tua nanti….

Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa “menghidupi” diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia). Ingatkah kita dengan semua jerih payah mereka.. dengan semua pengorbanan mereka.. dengan semua penderitaan mereka…
Mungkinkah kita bisa seperti Ismail yang merelakan dirinya disembelih ayah
kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa yang dihanyutkan
ketika bayi?

Ternyata kita masih sangat jauh… Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan? Sobat, bantu aku agar optimis! Ya, masih banyak waktu untuk mmbahagiakan mereka. Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan “tidak” ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia!  Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu! Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan. Walau takkan pernah sebanding, doa -doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir nanti.

Ya Allah, ampunilah dosa -dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mer eka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil. Jadikan kami termasuk anak-anak yang saleh ya Allah hingga doa -doa kami termasuk doa -doa yang berkenan bagi Engkau. Aamiin ….

(Semoga kita semua dapat memberikan yang terbaik untuk kedua orangtua kita)

 

One response so far

Feb 09 2008

awan965

Cinta Memang Gila?

Filed under Artikel

Cinta Memang Gila?

Februari 9, 2008

Tak pernah ada habisnya kegilaan tentang cinta, bahkan tak pernah terduga waktu dan tempat datangnya, kita kan slalu bersama bercanda berbagi tawa semua biasa saja, mengapa ku jatuh cinta. Berawal dari baisa tak pernah terlintas asa, dan kaupun terlihat tampak biasa, tak pernah ungkapkan rasa mengapa kujatuh cinta, padamu teman biasa, rasanya aku tak percaya sunguh cinta memang gila. Oh Tuhan ku jatuh cinta padaanya teman biasa. Aah mengapa harus diam? Bagaimana kuungkapkannya?

 Nah, sekarang apakah cinta itu

  1. memang gila?
  2. akan membuat kita gila?
  3. akan membuat kita gila cinta?

3 responses so far